SUDUT PANDANG KEBANYAKAN ORANGTUA TERHADAP PENDIDIKAN 

Pendidikan terhadap anak merupakan bagian terpenting dalam kehidupan berumah tangga. Sebab salah satu tujuan utama pernikahan adalah lahirnya keturunan yang nantinya akan menjadi generasi penerus. Generasi penerus yang tumbuh tanpa didampingi pendidikan agama yang memadai, akan menjadi mangsa dan korban penjajahan peradaban lain. Namun ironinya, hal ini tidak disadari oleh kebanyakan pasangan suami istri, sehingga pendidikan agama kurang mendapatkan perhatian dari mereka.

Penjelasan :
1. Pendidikan terhadap anak merupakan bagian terpenting dalam kehidupan berumah tangga. Jika dikatakan terpenting maka, dari banyak hal yang penting, pendidikanlah yang paling penting. Jika untuk rupiah, pekerjaan kita rela berjuang, lembur, berkorban, bahkan rela pisah jarak dengan keluarga (meski hal ini kurang bagus), harusnya pengorbanan, perjuangan, lemburan kita untuk pendidikan anak kita harusnya jauh lebih utama lagi.
2. Sebab salah satu tujuan utama pernikahan adalah lahirnya keturunan yang nantinya akan menjadi generasi penerus. Hendaknya setiap kita menancapkan niat kita dikala kita akan menikah. Niat yang pertama tentunya dalam rangka beribadah kepada Alloh. Karena niatnya untuk beribadah kepada Alloh, jadi jadikan tujuan dari pernikahan itu juga untuk Alloh. Salah satu dari tujuan itu, bahkan yang terpenting adalah melahirkan keturunan. Maka perlu kita mengetahui ilmu sebelum kita memiliki keturunan. Jika kita sudah memiliki keturunan, maka perlu ditambah ilmu tersebut agar menjadi semakin baik dalam mendidik dan jauh dari kata ngawur dalam mengarahkan keturunan kita ini. Mengapa kita perlu mengasah ilmu kita terus dalam mendidik mereka ? Karena mereka adalah generasi penerus, bukan hanya penerus kita namun yang jauh lebih utama adalah mereka generasi penerus agama kita.
3. Generasi penerus yang tumbuh tanpa didampingi pendidikan agama yang memadai, akan menjadi mangsa dan korban penjajahan peradaban lain. Ini menandakan bahwa pendidikan yang tepat tidak hanya pendidikan untuk keberhasilan mereka di dunia, namun jauh yang lebih penting dari itu adalah pendidikan agama mereka. Pendidikan agama hendaknya jadi skala prioritas, bukan "asal ada". Jika kita ingin generasi kita sebagaimana visi misi sekolah pada umumnya, beriman, bertakwa, sholeh, berakhlak dan sejenisnya maka porsi pendidikan agama wajib diberikan porsi yang cukup banyak, ini jika kita jujur dengan visi dan misi yang kita buat. Jika tidak, maka kita hanya menyiapkan anak kita, generasi kita untuk menjadi mangsa dan korban penjajahan peradaban lain. Ayo kita merenung sejenak, berapa jam-kah pelajaran agama di sekolah kita ? Sudah sesuaikah dengan visi misi utama sekolah kita?
4. Namun ironinya, hal ini tidak disadari oleh kebanyakan pasangan suami istri, sehingga pendidikan agama kurang mendapatkan perhatian dari mereka. Apakah kita masuk kategori pasangan yang demikian ?


*************************************
Dalam pandangan kebanyakan orangtua di masyarakat kita, pendidikan yang layak dan baik adalah dengan menyekolahkan anak di sekolah favorit. Dengan demikian anak tersebut akan dapat berprestasi, hingga nantinya memiliki masa depan yang "sukses dan mapan". Tidak peduli apakah sekolah tersebut mengajarkan nilai-nilai Islam ataukah tidak. Bahkan lebih dari itu, mereka tidak peduli meskipun sekolah tersebut dikelola oleh lembaga pendidikan sekuler atau non Islam. Malah mereka berpandangan bahwa jika ingin mendapatkan kualitas "pendidikan yang berkelas", maka harus menyekolahkan anak-anak mereka di lembaga-lembaga pendidikan non Islam. Karena lembaga-lembaga tersebut mengelola dan menyelenggarakan pendidikan secara "profesional", sementara sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga Islam "dikelola dengan ada adanya dan jauh dari profesional".

Penjelasan :
1. Dalam pandangan kebanyakan orangtua di masyarakat kita, pendidikan yang layak dan baik adalah dengan menyekolahkan anak di sekolah favorit. Apakah kita juga berpandangan demikian ? Sekolah favorit? Apa definisi sekolah favorit ? Favorit menurut siapa ? Jika yang menjadi favorit adalah yang jarang atau sedikit mengajarkan pendidikan agama, maka pada hakikatnya sekolah atau lembaga tersebut telah merobohkan, menghancurkan visi misinya sendiri. Mereka manjadikan visi mereka yang tertulis hanya sebatas slogan dan formalitas semata. Mereka telah memasukkan anak-anak mereka, generasi penerus agama dan bangsa ini ke jurang yang amat sangat dalam tanpa mereka sadari.
2. Dengan demikian anak tersebut akan dapat berprestasi, hingga nantinya memiliki masa depan yang "sukses dan mapan". Tidak peduli apakah sekolah tersebut mengajarkan nilai-nilai Islam ataukah tidak. Ini adalah ketertipuan pemikirian. Jika menurut mereka, prestasi, sukses dan mapan secara duniawi saja yang mereka harapkan, mungkin mereka akan mendapatkannya, namun mereka tidak memikirkan prestasi, kesuksesan dan kemapanan setelah mereka meninggalkan dunia kebanggaannya. Maka sukses dan mapan seperti itu masanya sebentar, pendek, tidak lama. Maka mereka akan getun, karena masa yang  diberikan kepada mereka telah habis, sedang merka tidak bisa mengulang waktu yang terlewat.
3. Bahkan lebih dari itu, mereka tidak peduli meskipun sekolah tersebut dikelola oleh lembaga pendidikan sekuler atau non Islam. Malah mereka berpandangan bahwa jika ingin mendapatkan kualitas "pendidikan yang berkelas", maka harus menyekolahkan anak-anak mereka di lembaga-lembaga pendidikan non Islam. Karena lembaga-lembaga tersebut mengelola dan menyelenggarakan pendidikan secara "profesional", sementara sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga Islam "dikelola dengan ada adanya dan jauh dari profesional". Dan jika mereka berpandangan seperti ini, sungguh telah jauh mereka telah melesat lepas meninggalkan ajaran agamanya, meski status mereka muslim, namun mereka adalah muslim yang tidak tahu kemuslimannya, sebagaimana wong jowo tapi ora ngerti jawane.

Wallohu a'lam.
Dan semoga Alloh melindungi kita dari ini semua. Aamiiin.


Yang menulisDenny Setiawan
SumberFiqih Tarbiyyah al Abna` wa Thoifatun min Nashoihi al Athibba`, karya Syaikh Mustofa Al Adawi. Penerbit : Dar ibnu Rojab.
Edisi terjemah Indonesia, berjudul Anakku! Sudah tepatkah pendidikannya. Penerbit Tim Pustaka Ibnu Katsir halaman xi - xii (pengantar penerbit).




Bagi yang belum membaca seri pertama bisa membaca di sini