HIDAYAH ITU MILIK ALLOH SEMATA #3
BAHKAN PARA NABI PUN TIDAK MEMILIKI HAK UNTUK MEMBERIKAN HIDAYAH (TAUFIK).

KISAH ROSULULLOH SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM DAN ABU THOLIB.

Ketika Rosululloh Shollallohu 'alaihi wa sallama membujuk pamannya, yaitu Abu Tholib untuk mengucapkan "Laa Ilaaha Illallooh", namun sang paman menampik dan menolak, maka saat itu Alloh Sebhanahu wa ta'ala berfirman :
"Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Alloh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk." (QS. Al Qoshosh : 56).

Inilah hadits yang menjelaskan peristiwa tersebut, sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al Bukhori dan Muslim dari hadits Sa'id bin al Musayyib dari bapaknya, dia berkata :

Ketika kematian akan menjemput Abu Tholib, Rosululloh Shollallohu 'alaihi wa sallama datang menjenguknya. Di sana beliau berjumpa dengan Abu Jahal dan Abdulloh bin Abi Umayyah bin al Mughiroh, Rosululloh Shollallohu 'alaihi wa sallama berkata :
'Wahai paman, ucapkanlah "Laa Ilaaha Illallooh". Sebuah kalimat yang akan menjadi saksi bagiku ketika aku membelamu di hadapan Alloh.'

Lalu Abu Jahal dan Abdulloh bin Abi Umayyah bin al Mughiroh berkata :
'Wahai Abu Tholib, apakah engkau membenci agama Abdul Muththolib ?'

Rosul terus-menerus mengungkapkan kata-katanya dan mengulang-ulangnya sehingga Abu Tholib mengucapkan kata-kata terakhirnya, bahwa dia tetap berada di atas agama Abdul Muththolib dan enggan untuk mengucapkan "Laa Ilaaha Illallooh". 

Lalu Rosululloh berkata :
'Demi Alloh, sungguh aku akan memohon ampunan untukmu selama Alloh tidak melarangku.

Lalu turunlah firman Alloh :
'Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Alloh) bagi orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni Neraka Jahannam.' (QS. At Taubah : 113)

Dan tentang Abu Tholib sendiri Alloh menurunkan firman-Nya kepada Rosul :
'Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Alloh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.' (QS. Al Qoshosh : 56).

Faedah yang bisa kita ambil :

1. Ketika kematian akan menjemput Abu Tholib, Rosululloh Shollallohu 'alaihi wa sallama datang menjenguknya. Ini menandakan, dibolehkan menjenguk orang non muslim yang sedang sakit.

2. 'Wahai paman, ucapkanlah "Laa Ilaaha Illallooh". Sebuah kalimat yang akan menjadi saksi bagiku ketika aku membelamu di hadapan Alloh.' Bolehnya mendakwahi, "menasehati" orang yang lebih tua, tentunya dengan adab yang baik. Bau kencur, tidak bisa dilihat dari sisi usia, karena boleh jadi usia tua namun ilmunya masih bau kencur. Hal yang demikian bukanlah hal yang mustahil terjadi.

3. Rosul terus-menerus mengungkapkan kata-katanya dan mengulang-ulangnya sehingga Abu Tholib mengucapkan kata-kata terakhirnya, bahwa dia tetap berada di atas agama Abdul Muththolib dan enggan untuk mengucapkan "Laa Ilaaha Illallooh". Ini menandakan hidayah taufiq, milik Alloh semata. Bahkan Rosul-pun tidak mampu meluluhkan hati pamannya, dimana mereka adalah 2 orang yang saling mencintai, keluarganya. Dari sini hendaknya kita tidak mengumpat orang tuanya , jika memang anaknya belum mendapat hidayah. Pun pula jangan mengumpat anaknya jika orang tuanya belum mendapat hidayah. Fokuslah dalam memperbaiki diri.

4. 'Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Alloh) bagi orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni Neraka Jahannam.' (QS. At Taubah : 113). Ayat ini menunjukkan larangan mendoakan, memintakan ampunan kepada orang musyrik, meskipun mereka adalah keluarga kita.

5. 'Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Alloh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.' (QS. Al Qoshosh : 56). Sedang ayat ini menandakan hidayah (taufiq) itu mutlak milik Alloh semata.

6. Abu Jahal dan Abdulloh bin Abi Umayyah bin al Mughiroh termasuk teman Abu Tholib yang mempengaruhia agar tetap pada agama nenek moyang. Ini menandakan pengaruh teman itu sungguh luar biasa. Oleh karenanya, carilah teman yang mendekatkan diri kepada Alloh, bukan malah yang menjauhkannya.





Yang menulis : Denny Setiawan
Tanggal : 08 Shofar 1444 H / 05 Agustus 2022 M
Sumber : Fiqih Tarbiyyah al Abna` wa Thoifatun min Nashoihi al Athibba`, karya Syaikh Mustofa Al Adawi. Penerbit : Dar ibnu Rojab.
Edisi terjemah Indonesia, berjudul Anakku! Sudah tepatkah pendidikannya. Penerbit Tim Pustaka Ibnu Katsir halaman 13 - 14