HIDAYAH MILIK ALLOH SEMATA #5
Kisah Nabi Ibrohim 'Alaihissalam

Dan inilah Al Kholil Nabi Ibrohim 'alaihissalam yang sedang berbincang kepada bapaknya, dia berkata :
"Wahai ayahku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikitpun. Wahai ayahku, sungguh, telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak diberikan kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai ayahku, jangan engkau menyembah setan. Sungguh, setan itu durhaka kepada Robb Yang Maha Pemurah. Wahai ayahku, aku sungguh khawatir engkau akan ditimpa adzab dari Robb Yang Maha Pemurah, sehingga engkau menjadi teman bagi setan." (QS. Maryam : 42-45)

Penjelasan :
1. "Dakwah"-pun boleh disampaikan oleh anak kepada orangtuanya.
2. Di saat anak mengetahui sebuah kebaikan, kemudian disampaikan kepada orang tuanya bukan berarti "menggurui", bukan berarti merasa lebih tinggi dan lebih mulia dari orang tuanya.
3. Bukanlah aib dan suatu hal yang rendah jika orang tua mengikuti anak dalam bab kebaikan. Karena hakikatnya yang diikuti adalah kebenarannya, bukan anaknya.
4. Larangan bersekutu bahkan menyembah setan.
5. Ilmu bisa diberikan kepada siapa saja, baik muda ataupun tua, kaya atau miskin dll.
6. Setan adalah makhluk durhaka.
7. Poin 1 dan 2 di atas didasari karena sang anak khawatir akan adzab Alloh yang akan menimpa.
*****************************************

Tetapi apakah jawaban sang ayah ketika anaknya senantiasa berseru dengan berkata, "Wahai ayahku, wahai ayahku, wahai ayahku, wahai ayahku....."

Sang ayah menolak dengan keras dan sama sekali tidak mengikuti ajakan anaknya, bahkan dia memberikan ancaman kepadanya dengan berkata :
"Bencikah engkau kepada sembahan-sembahanku, hai Ibrohim ? Jika engkau tidak berhenti, pasti engkau akan kurajam, maka tinggalkan aku untuk waktu yang lama." (QS. Maryam : 46)

Penjelasan :
1. Hendaknya seorang anak menyampaikan dengan cara yang terbaik yang ia bisa lakukan. Meski demikian, hasilnya tetap di tangan Alloh.
2. Dari dulu sudah ada kisah penolakan "dakwah" anak kepada orangtua, meskipun cara terbaik sudah dilakukan. Lagi-lagi karena hidayah adalah milik Alloh semata.
3. Dari dulu, ancaman dan kedzholiman dari orangtua kandung-pun sudah ada yang melakukannya.
*****************************************

Maha Suci Alloh, benarlah bahwa hanya Alloh-lah yang memberi hidayah.

Renungkanlah apa yang dilakukan oleh ayah tersebut, dan bandingkan antara dia dengan Isma'il bin Ibrohim. Nabi Isma'il adalah seorang anak yang selalu menepati janjinya, ayahnya berkata :
"Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu ..." (QS. Ash Shooffat : 102)

Hikmah :
Sungguh ini adalah warna warni model orang tua. Ada yang baik ada yang buruk. Namun seburuk apapun orang tua kita, tugas kita tetap berbuat baik, semampu kita. Adapun orang tua kita, kita serahkan kepada Alloh. Adapun pendapat orang tentang kita, pun kita serahkan kepada Alloh. Karena masing-masing ada hisabnya.
*****************************************

Maha Suci Alloh, Robb yang memberikan petunjuk, Maka Suci Alloh yang menurunkan ketenangan ke dalam hati hamba-Nya.

Nabi Isma'il berkata :
"Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Alloh kepadamu, Insya Alloh engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar." (QS. Ash Shooffat : 102)

Maha Suci Alloh, dia sama sekali tidak akan pernah bersabar kecuali dengan kehendak Alloh. Maha Suci Alloh yang :
"Mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup ...." (QS. Ar Rum : 19).
Diantara pendapat para ulama tafsir sehubungan dengan ayat ini : Bahwa Alloh mengeluarkan seorang kafir dari tulang rusuk orang yang beriman dan mengeluarkan seorang yang beriman dari tulang rusuk orang kafir.

Maha Suci Alloh yang telah mengeluarkan Imam agama Tauhid, yaitu Nabi Ibrohim dari tulang rusuk seorang kafir. Hanya milik Alloh-lah segala penciptaan dan urusan, dan hanya kepada Alloh-lah segala urusan dikembalikan :
"Dan sesungguhnya kepada Robb-mulah kesudahannya (segala sesuatu)." (QS. An Najm : 42)

Karena itu, apapun -wahai para ibu dan ayah- yang Anda lakukan, maka Anda sama sekali tidak dapat memberi hidayah sedikitpun kepada anak-anak Anda. Yang Anda lakukan hanyalah sebab, sebauh jalan yang ditempuh, dan sebuah usaha yang dilakukan. Sama saja, walaupun pelakunya adalah seorang Nabi atau Rosul, walaupun seorang raja atau seorang pemimpin yang besar. 

Bacalah firman Alloh yang mengisahkan Nabi Ibrohim dan Nabi Ishaq. Firman Alloh :
"Dan di antara amal cucunya ada yang berbuat baik dan ada pula yang dzholim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." (QS. Ash Shooffat : 113)

Tugas kita adalah berusaha, berjuang untuk menjadi hamba yang semakin baik, meskipun ujian, fitnah, cacian sering melanda.

Wahai Alloh jadikan kami hamba-hamba yang baik dan selalu bersyukur kepada-Mu. Aamiiiin.


Yang menulis : Denny Setiawan
Tanggal : 17 Shofar 1444 H / 14 September 2022 M
Sumber : Fiqih Tarbiyyah al Abna` wa Thoifatun min Nashoihi al Athibba`, karya Syaikh Mustofa Al Adawi. Penerbit : Dar ibnu Rojab.
Edisi terjemah Indonesia, berjudul Anakku! Sudah tepatkah pendidikannya. Penerbit Tim Pustaka Ibnu Katsir halaman 16 - 18